Kategori
Berkebun

Cerita Soraya Cassandra Merawat Kebun Kumara

Cerita Soraya Cassandra Merawat Alam Melalui Kebun Kumara

Cerita Soraya Cassandra Merawat Kebun Kumara – Sudah menjadi anggapan umum bahwa hidup di perkotaan, seperti Jakarta, sangat jauh dari keasrian alam. Maka ketika publik berbicara soal “alam” beserta segala dampak positifnya bagi keberlangsungan hidup.

Beberapa orang memanfaatkan masa pandemik untuk lebih dekat dengan dirinya. Agaknya, itu yang dilakukan untuk bertahan saat swakarantina mandiri. Mereka beralih mengeksplorasi berbagai hal dari rumah. Mulai dari dekorasi kamar, memasak, melukis, hingga hobi yang sekarang menjadi tren seperti berkebun.

Menurut studi oleh Leon A. Simons yang berjudul “Lifestyle factors and risk of dementia: Dubbo Study of the elderly”, peneliti dari Australia menyebutkan bahwa orang di usia 60-an yang secara rutin berkebun, memiliki kemungkinan 36 persen lebih rendah mengidap penyakit kognitif seperti demensia. Sejalan dengan ini, kami mengulas lebih jauh perihal berkebun bersama pendiri platform edukasi Kebun Kumara, Siti Soraya Cassandra.

Apa yang menginisiasi Soraya membangun Kebun Kumara di tengah masyarakat urban yang semakin jauh dari alam? Berikut ulasan perbincangan residencedaercole.com dengan Soraya pada Jumat lalu.

Kebun menjadi pintu masuk yang tepat dan sangat mudah, serta bisa dimiliki siapa pun di perkotaan

Layaknya cangkang telur yang tak mampu terbentuk tanpa adanya protein dari ovarium ayam, sebelum penelitian tentang ayam dan telur ini ditemukan, masih banyak orang yang percaya bahwa telur datang lebih dahulu dari ayam. Studi ini justru menunjukkan bahwa baik telur maupun ayam ternyata saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

Mengajak Masyarakat Kota Lebih Dekat Dengan Alam

Menyadari bahwa Kebun Kumara tak menghasilkan apa-apa di awal, apa yang membuat Soraya bertahan hingga sekarang?

The beginning is perhaps more difficult than anything else, but keep heart, it will turn out all right“, bahwasanya sesuatu di awal yang terlihat sulit, suatu saat akan membuahkan hasil dengan keteguhan hati. Kata-kata ini barangkali selaras dengan apa yang dialami Soraya di awal berdirinya Kebun Kumara.

Mulai dari bagaimana ia harus menghadapi kekhawatiran orangtua, hingga melewati masa sulit Kebun Kumara yang pada awalnya tak menghasilkan apa-apa.

Berawal dari kegelisahan pada isu lingkungan, Kebun Kumara hadir sebagai wadah untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sustainable

Membangun bisnis permakultur di daerah urban, menjadi keputusan yang terkesan kontradiktif di tengah realita yang menunjukkan minimnya lahan hijau di perkotaan. Namun, Kebun Kumara membuktikan bahwa sesuatu yang sepertinya tidak mungkin, menjadi mungkin dilakukan.

Kegelisahan Soraya, suami, dan saudaranya perihal isu lingkungan seperti polusi, depolarisasi, banjir, hingga erosi, memprakarsai berdirinya Kebun Kumara pada tahun 2016. Ia memutuskan keluar dari pekerjaan kantoran dan ingin membuat bisnis.

Melalui berkebun, energi dan stimulus alam akan menyeimbangan kesehatan jiwa dan raga

Manfaat berkebun secara raga jelas, orang berkebun di siang atau sore hari mendapatkan sinar matahari yang bagus. Mereka menghirup udara luar dan berkeringat, bermain tanah dan elemen alam lain seperti air yang terbukti akan menguatkan imunitas secara fisik.

Terakhir, ia berpesan pada anak muda sekarang untuk tidak menunda-nunda dalam memegang tanah dan mengenal tanaman. “Rawat satu pot tanaman, terus nanti lihat saja dari situ deh! Pasti ada ilmu yang didapat,” tuturnya.