Kategori
Bisnis

Omzet Pedagang Seragam Sekolah Anjlok

Omzet Pedagang Seragam Sekolah Anjlok

Omzet Pedagang Seragam Sekolah Anjlok – Omzet pedagang seragam sekolah jelang tahun ajaran baru anjlok hingga 95 persen dibandingkan dengan musim yang sama tahun lalu terpukul pandemi virus corona.

Biasanya, penjualan mencapai Rp10 juta per hari, kali ini pedagang hanya bisa mengantongi Rp500 ribu.
Siswadi (49), salah seorang pedagang seragam di kawasan Kosambi, Bandung mengatakan penurunan omzet menjelang tahun ajaran baru bahkan sudah terasa sejak awal pandemi.

“Dari Maret sampai hari ini sangat terasa penurunannya, lebih dari 95 persen. Biasa Juni per hari bisa dapat Rp10 juta, sekarang rata-rata di bawah Rp500 ribu,” ucap Siswadi saat ditemui hari Senin.

Nasib serupa juga dirasakan pedagang lain, Siti Aisyah (46). Menurut pengelola toko seragam sekolah Resko itu, pihaknya mengalami penurunan omzet hingga 50 persen.

“Terasa sekali (dampak pandemi). Dalam sehari paling yang beli ke toko hanya 10 stel kadang ada lebih,” katanya.
Padahal, kata dia, momen seperti sekarang ini adalah kesempatan pedagang untuk menjual barang dagangannya.

“Kalau konveksi masih berjalan. Tapi yang biasanya kami produksi seminggu tiga kali sekarang hanya sekali seminggu,” ucapnya. Tak hanya di Bandung, kondisi serupa pun terjadi di Jakarta sebagai pusat bisnis Tanah Air. Kasnawati, pemilik toko Berkah Saudara yang menjual perlengkapan sekolah di Lantai 2 Blok C Pasar Minggu mengaku penjualannya turun drastis.

Siswadi mengakui lesunya pembeli seragam tahun ajaran baru kali ini dampak dari pandemi virus corona. Terlebih, hingga saat ini belum ada kepastian soal kapan kebijakan belajar di rumah akan berakhir dan sekolah akan kembali dibuka. “

Kalau normal, Juni yang pertama masuk kan SD lalu awal Juli sampai Agustus itu SMP dan SMA. Sekarang, untuk yang beli seragam lima pasang saja sudah bagus,” ujar Siswadi.

Siswadi mengakui pemberlakuan belajar di rumah imbas dari pandemi covid-19 cukup mempengaruhi keberlangsungan usahanya. Salah satunya tenaga kerja jahit yang terpaksa dirumahkan.

“Kasihan kan tenaga kerja saya yang ngejahit sekarang jadi menganggur, mereka dirumahkan dulu sampai waktunya memang dibutuhkan untuk produksi lagi. Karena kami saat ini pun belum bisa beli kain bahan,” ujarnya.

Padahal, Juni seperti sekarang ini atau jelang pergantian tahun ajaran baru, bisnis perlengkapan sekolah seperti yang ia kelola biasanya banyak diburu.

Ditemui pada pertengahan Juni lalu, ia mengaku belum kedatangan pembeli barang satu pun. Padahal kalau dilihat, lokasi tokonya cukup strategis dibanding yang lainnya.

“Anjloknya parah, sampai 90 persen. Mau masuk sekolah enggak ada yang ke sini. Mungkin takut (Covid-19) kali, ya” ujar Kasnawati di tokonya pekan lalu.

Virus yang makin menyebar luas di dalam negeri telah memaksa yang berdampak pada penutupan pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *