Kategori
Bisnis

Hancur Lebur dan Menjulang Dihantam Corona

Hancur Lebur dan Menjulang Dihantam Corona

Hancur Lebur dan Menjulang Dihantam Corona, –  Akibat kemunculan pandemi virus corona berdampak tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi. Kebijakan pemerintah membatasi kegiatan masyarakat untuk mencegah penularan covid-19, membuat aktivitas ekonomi lumpuh.

DKI Jakarta, sebagai episentrum pandemi mendapatkan pukulan paling besar. Sebab, selain ibu kota negara, DKI Jakarta juga merupakan pusat bisnis Indonesia. Guna mencegah penularan, Gubernur DKI Anies Baswedan mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Selama masa PSBB, pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menutup seluruh aktivitas, kecuali delapan sektor. Delapan sektor yang masih bisa beroperasi yakni kesehatan, pangan, energi, komunikasi, distribusi barang, keuangan dan perbankan, kebutuhan sehari-hari, dan sektor industri strategis.

Imbasnya, sejumlah sektor di DKI Jakarta terpuruk akibat pemberlakuan PSBB. Masa berlaku PSBB dimulai pada 10 April, kemudian terus diperpanjang lantaran jumlah kurva tambahan kasus positif tak kunjung turun.

Saat ini DKI Jakarta masih menjalani PSBB transisi. Namun, jika kasus kembali naik selama masa transisi, maka Pemprov DKI Jakarta akan memberlakukan kembali kebijakan PSBB.

“Jadi, kegiatan lain akan dianjurkan untuk bekerja dari rumah. Dan, delapan sektor ini, sektor kesehatan misalnya, diizinkan untuk tetap berkegiatan,” ujar Anies, Selasa.

Saat ini, sejumlah tempat wisata sudah mulai dibuka sejalan dengan pelonggaran PSBB di ibu kota. Secara nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada April 2020 hanya 160 ribu kunjungan. Jumlah itu anjlok 87,44 persen dibandingkan April 2019 sebanyak 1,27 juta kunjungan.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memprediksi devisa dari sektor pariwisata anjlok hingga 50 persen akibat pandemi. Ia memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan tahun ini hanya 5 juta kunjungan dari tahun lalu mencapai 16 juta wisatawan.

“Devisa kurang lebih tahun lalu US$20 miliar dari pariwisata, mungkin tahun ini bisa (berkurang) separuhnya bahkan lebih dari separuhnya bisa hilang dari devisa pariwisata,” ucap Wishnutama.

Industri pariwisata diramal baru bangkit (rebound) tahun depan. Ini karena sektor pariwisata membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi.

Sektor pariwisata menjadi sektor yang paling pertama kena dampak covid-19. Sebab, PSBB membatasi aktivitas masyarakat di luar rumah sehingga secara otomatis sektor pariwisata kehilangan banyak pengunjung. Kondisi serupa terjadi di DKI Jakarta yang merupakan episentrum covid-19.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk menutup sementara seluruh tempat wisata milik Pemprov DKI Jakarta mulai 14 Maret. Belasan objek wisata tutup antara lain, kebun binatang Ragunan, Monumen Nasional (Monas), Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan sejumlah museum milik Pemprov DKI Jakarta.

Keterpurukan sektor pariwisata menular pada industri perhotelan, restoran, dan meetings, incentives, conferences and exhibitions (MICE). Pasalnya, sektor tersebut merupakan komplementer dari pariwisata.

Pengamat pemasaran Inventure Consulting Yuswohady mengatakan tingkat keterisian (okupansi) hotel hampir mendekati nol persen. Kondisi ini memaksa pemilik hotel memutar otak untuk bertahan di tengah covid-19. Namun, sebagian yang tidak mampu bertahan memilih untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada karyawan.

Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan setidaknya 8.000 restoran dan 1.600 hotel tutup sementara secara nasional akibat covid-19 hingga awal Mei. Datanya, masih bersifat dinamis karena kasus covid-19 tak kunjung reda.

“Sebetulnya, data itu juga bukan angka aktual, di lapangan pasti lebih banyak dari itu. Data itu hanya pengelola yang lapor ke PHRI,” Wakil Ketua Umum PHRI Maulana Yusran belum lama ini.

Selama PSBB transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai melonggarkan sejumlah aktivitas. Namun, Yusran menuturkan sektor perhotelan dan restoran membutuhkan waktu untuk bangkit kembali. Pemulihan ini bergantung pada kondisi permodalan dan pangsa pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *