Kategori
Agriculture and Forestry

Menanam Kangkung Di Sawah

Menanam Kangkung Di Sawah

Menanam Kangkung Di Sawah – Memasuki musim penghujan, bebrapa petani di Desa Karang Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora menjajal peruntungan dengan menanam kangkung di lahan persawahan.

Dengan masa tanam yang singkat, petani bisa mendapat untung berlipat.

Salah seorang petani kangkung, Siswanto (45), warga Desa Karang RT 04 RW 01 Kecamatan Bogorejo mengaku, menanam kangkung terbilang menguntungkan dibanding menanam jagung.

Pasalnya, cara penanaman kangkung sangat mudah dan murah, serta permintaan pasar yang stabil.

“Mulai dari tanam hingga panen pertama, dibutuhkan waktu selapan (36) hari.

Setelah dipanen, kangkung akan kembali tumbuh dan siap dipanen lagi dalam jangka waktu 20 hari,” ucap Siswanto di sela panen kangkung di sawahnya, Jumat (22/11).

Sebagai informasi, kangkung adalah sayuran bernama latin Ipomoea aquatika Forsk.

Jenisnya, terdiri atas kangkung darat dan kangkung air. Siswanto memilih bertani kangkung darat dengan pertimbangan ketersediaan air di kawasan itu.

Lebih lanjut, Siswanto mengatakan, menanam kangkung sawah diawali dengan mempersiapkan lahan yang sesuai dengan kebutuhan, yaitu mempunyai ketersediaan air dan cahaya matahari yang cukup.

Untuk memenuhi kebutuhan air di lahan kangkung miliknya, Siswanto menyedot air dari sumur yang ada di lokasi tersebut dengan memakai pompa air. Setelah persiapan lahan selesai, kangkung sawah siap ditanam.

Ada dua cara menanam kangkung, pertama dengan memakai benih (bibit) kangkung, dan dengan cara stek vegetatif.

Siswanto memilih cara pertama dengan memakai benih untuk musim tanam tahun ini.

“Dibuat lubang-lubang, tiap lubang diisi 5-7 biji kangkung. Setelah tanaman berusia sekitar 10 hari, siap diberi pupuk. Kita pakai urea,” jelasnya.

Setelah 36 hari, kangkung dipanen dengan menyisakan batang bagian bawah sekitar 2 cm agar bisa tumbuh lagi.

Tiap kali panen, Siswanto yang bertanam di lahan seluas sekitar setengah hektar ini bisa mengantongi keuntungan bersih antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.

Untuk tiap ikatnya, Siswanto menjual kepada tengkulak kangkung dengan harga Rp 400 hingga Rp 600.

Lalu, tengkulak ini menjualnya kepada para pedagang di pasar. Konsumen kemudian membeli setiap ikat kangkung dengan harga Rp 1000.

“Keuntungannya, mudah ditanam dan mudah dijual,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *